LAMPUNG77.com – Status Gunung Anak Krakatau naik dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) mulai Kamis, 2 Juli 2026, pukul 16.30 WIB. Peningkatan status ini sehubungan dengan meningkatnya aktivitas gunung berapi di Provinsi Lampung tersebut.
Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangan tertulisnya menyebutkan bahwa sejak 1 Juni 2026, Satelit Sentinel memperlihatkan adanya emisi gas SO2 dan anomali panas, serta pemunculan titik api di kawah sejak 10 Juni 2026. Gejala ini disertai dengan pemunculan asap dari kawah dengan intesitas cukup tinggi, dan peningkatan jumlah gempa yang beraosiasi dengan gempa vulkanik dangkal (Hembusan, Hybrid/Fase Banyak, dan Low Frequency) secara signifikan.
Menurutnya, dalam 2 hari terakhir atau pada 18 dan 19 Juni 2026, jumlah gempa Hembusan, Hybrid/Fase Banyak, dan Low Frequency meningkat drastis dengan rerata kejadian lebih dari 50 kali dalam setiap hari. Meskipun tidak disertai dengan peningkatan gempa vulkanik yang berasosiasi gempa dalam (Vulkanik A dan Vulkanik B) dan deformasi, peningkatan gempa yang beraosiasi dengan gempa vulkanik dangkal mengindikasikan adanya dinamika magma Gunung Anak Krakatau di bagian permukaan.
Baca Juga:
Pasca Longsor-Tsunami 2018, Tinggi Gunung Anak Krakatau Kini 157 Mdpl
Ia mengungkapkan bahwa selama periode 16 – 2 Juli 2026 terekam 740 kali gempa Hembusan, 24 kali gempa Harmonik, 247 kali gempa Low Frequency, 520 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, 16 kali gampa Tremor Menerus, 2 kali gempa Vulkanik Dangkal, 3 kali gempa Vulkanik Dalam, 1 kali gempa Tektonik Lokal, dan 5 kali Gempa Tektonik Jauh.
Selain itu, data tiltmeter Stasiun Kras dan Lava93 periode 16 Juni – 2 Juli 2026 juga memperlihatkan pola fluktuatif dengan kecenderungan konstan / mendatar pada komponen Y. Sementara itu, stasiun tiltmeter Tanjung memperlihatkan pola fluktuatif dengan kecenderungan meningkat (inlfasi) dalam skala rendah.
Pada 26 Juni 2026, intensitas gempa Hembusan semakin meningkat disertai dengan peningkatan intensitas asap kawah, berwarna kelabu dengan muatan abu vulkanik tipis mengarah ke barat – barat laut. Asap ini terdeteksi satelit yang dioperasikan oleh Volcanic Ash Advisory Centres (VAAC) Darwin, Australia. Grafik RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) secara umum terlihat berfluktuatif dengan energi rendah, mulai tanggal 30 Juni 2026 cenderung memperlihatkan peningkatan dalam skala rendah.
“Pada hari Kamis, 2 Juli 2026 pukul 14:05 WIB telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau, Lampung, dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 357 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal condong ke arah barat laut. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi ± 20 detik,” ujar Lana, seperti dikutip dalam keterangannya di laman resmi Badan Geologi, Sabtu (4/7/2026).
“Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, maka tingkat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau dinaikan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB,” lanjutnya.
Masyarakat Dilarang Aktivitas Radius 3 Km
Dengan adanya peningkatan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level III atau Siaga, masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Selain itu, meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
“Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung api Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat,” ujar Lana.
Tinggi Gunung Anak Krakatau 157 MDPL
Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A di perairan Selat Sunda yang secara administrasi termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Meskipun demikian, pengamatan Gunung Anak Krakatau dilakukan melalui 2 pos pengamatan yaitu Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Kalianda, Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dan Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suardi, saat dihubungi Lampung77.com, Sabtu (4/7/2026) membenarkan peningkatan status Gunung Anak Kratau ke Level III atau Siaga.
Ia menyebutkan bahwa kondisi kegempaan Gunung Anak Krakatau saat ini masih fluktuatif. adapun tinggi gunung berapi tersebut saat ini yaitu 157 meter di atas permukaan laut (mdpl).
“Iya. Statusnya Level III (siaga) sejak 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB. Kondisi (kegempaan) masih fluktuatif. Kalau tinggi (Gunung Anak Krakatau) 157 mdpl,” ujar Andi.
(Yar/P1)



