Breaking News
light_mode

Lampung Alami Inflasi 0,54 Persen pada Oktober 2026

  • account_circle Lampung77
  • calendar_month Selasa, 3 Nov 2026 - 07:35 WIB

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lantas, apa itu inflasi? Dilansir CNBC Indonesia yang mengutip dari laman resmi Bank Indonesia (BI), inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu.

Laman Kementerian Keuangan menjelaskan, penyebab inflasi dipengaruhi beberapa faktor. Mulai dari permintaan yang tinggi terhadap suatu barang atau jasa sehingga membuat harga barang atau jasa tersebut mengalami kenaikan.

Selain itu, ada pula faktor biaya produksi yang tinggi, bertambahnya uang beredar di masyarakat, dan ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran. Bahkan, ada pul faktor perilaku masyarakat yang seringkali memprediksi atau biasa disebut sebagai ekspektasi inflasi.

Baca Juga: Anggota DPRD Lampung Fauzan Sibron Soroti Antrean Solar, Singgung Stok dan Tata Kelola

Terakhir, penyebab inflasi juga dapat dipengaruhi oleh gejolak ekonomi dan politik yang terjadi di suatu negara. Dalam konteks Indonesia, hal ini pernah terjadi pada kekacauan yang terjadi pada 1998 silam.

Inflasi dilihat berdasarkan Consumer Price Index (CPI). Ketika angkanya positif berarti terjadi inflasi, sementara jika negatif artinya deflasi atau menurunnya harga barang dan jasa.

Ketika daya beli meningkat, konsumen bisa membeli lebih banyak barang. Semakin tinggi permintaan maka harganya akan naik, dan terjadi inflasi.

Dampak inflasi secara keseluruhan tentu tidak bisa dianggap sepele. Inflasi yang tinggi bisa menyebabkan pendapatan riil masyarakat terus tergerus, karena harga barang yang semakin mahal, sehingga standar hidup mereka juga akan semakin turun. Situasi ini akan membuat masyarakat yang sudah tergolong miskin, menjadi makin miskin.

Selain itu, Inflasi yang tinggi tentu akan membuat masyarakat semakin kesulitan memiliki rumah. Pasalnya, inflasi yang tinggi akan direspons oleh bank sentral dengan menaikkan bunga yang berimplikasi pada kenaikan bunga kredit rumah.

Bahkan, inflasi yang tinggi, terutama jika lebih tinggi dibandingkan negara lain juga akan menjadikan tingkat bunga domestik menjadi tidak kompetitif. Situasi ini tentu akan memberikan beban terhadap nilai tukar rupiah.

(Yar/P1)

  • Penulis: Lampung77
expand_less