Breaking News
light_mode
Trending Tags

Cuaca Lampung April 2026: Waspada Fenomena Cuaca Ekstrem di Masa Pancaroba!

  • account_circle Lampung77
  • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

LAMPUNG77.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca di wilayah Lampung pada April 2026 mulai masuk masa pancaroba yakni peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau.

“Bulan April 2026 masuk masa pancaroba, masa peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau. Secara umum, curah hujan wilayah Provinsi Lampung pada bulan April 2026 diprakirakan berada pada kriteria Menengah hingga Tinggi (51 – 300 mm/bulan),” kata Rudi Harianto, Koordinator Data dan Informasi BMKG Lampung, saat dihubungi Lampung77.com, Kamis (2/4/2026).

Rudi menyebutkan di masa pancaroba, cuaca ekstrem masih sangat mungkin terjadi di wilayah Lampung seperti hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.

Karakteristik Masa Pancaroba

Rudi mengungkapkan sejumlah karakteristik masa pancaroba. Di antaranya, terjadi perubahan cuaca yang mendadak hingga fenomena cuaca ekstrem.

Berikut selengkapnya karakteristik masa pancaroba:

1. Perubahan Cuaca yang Mendadak

Salah satu ciri paling khas adalah cuaca yang bisa berubah sangat cepat dalam hitungan jam. Pagi hingga siang hari biasanya terasa sangat terik dan panas menyengat, namun tiba-tiba diikuti oleh hujan lebat menjelang sore atau malam hari.

2. Fenomena Cuaca Ekstrem

Pada masa pancaroba ini, atmosfer cenderung tidak stabil, yang sering memicu hujan lebat durasi singkat. Dimana, hujan turun sangat deras, namun biasanya tidak berlangsung lama.

Kemudian, angin kencang dan puting beliung. Dimana adanya awan Cumulonimbus (Cb) yang berbentuk seperti bunga kol berwarna abu-abu pekat sering menyebabkan hembusan angin kencang secara tiba-tiba.

selanjutnya, yakni petir dan guntur. Intensitas kilat dan suara guruh biasanya jauh lebih tinggi dibandingkan saat puncak musim hujan. Selain itu, dalam beberapa kasus ketidakstabilan udara yang ekstrem dapat menyebabkan butiran es jatuh bersama hujan.

3. Kelembapan Udara Tinggi

Sebelum hujan turun, udara biasanya terasa sangat gerah atau pengap (sumuk). Hal ini disebabkan oleh tingginya kelembapan udara dan radiasi matahari yang kuat, yang mempercepat proses penguapan dan pembentukan awan konvektif.

4. Arah Angin Tidak Teratur

Berbeda dengan musim kemarau atau penghujan di mana angin bertiup konsisten dari satu arah (Monsun), pada masa pancaroba arah angin cenderung berubah-ubah atau variabel dengan kecepatan yang tidak menentu.

Baca Juga:
Kapan Musim Kemarau 2026 di Lampung? Ini Kata BMKG

(Yar/P1)

  • Penulis: Lampung77
expand_less