Breaking News
light_mode

Musim Hujan Diprediksi Mundur Imbas El Nino

  • account_circle Lampung77
  • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026 - 10:00 WIB

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sementara itu, wilayah yang diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Januari 2027 adalah Riau bagian selatan, Kepulauan Riau bagian tengah, sebagian kecil Jambi, Bengkulu bagian utara, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan bagian barat, Lampung bagian utara, sebagian Jawa, Bali bagian tengah, NTB bagian barat, sebagian NTT, sebagian Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Tengah, sebagian kecil Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian Sulawesi, sebagian kecil Maluku Utara, Maluku bagian barat, dan sebagian Pulau Papua

Adapun wilayah yang diprediksi mengalami puncak musim hujan pada bulan Februari 2027 adalah Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa, sebagian besar Bali, sebagian NTB, sebagian besar NTT, Sulawesi Barat bagian selatan, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, sebagian Maluku, dan sebagian besar Pulau Papua.

“Jika dibandingkan dengan normalnya, durasi musim hujan 2026/2027 di wilayah Indonesia diprediksi lebih pendek dari normalnya pada 482 ZOM yang mencakup 51,90% luas daratan Indonesia, lebih panjang dari normalnya pada 60 ZOM yang mencakup 8,58% luas daratan Indonesia, dan sama dengan normalnya pada 40 ZOM yang mencakup 5,06% luas daratan Indonesia,” kata Ardhasena.

Dampak El Nino

Direktur Perubahan Iklim BMKG, A. Fachri Radjab, menjelaskan salah satu indikasi adanya dampak El Niño adalah kekeringan yang dialami pelbagai wilayah di Indonesia. Berdasarkan hasil monitoring perkembangan musim, sebanyak 556 ZOM yang mencakup 61,91% dari luas daratan Indonesia saat ini sedang mengalami musim kemarau.

Data analisis menunjukkan bahwa banyak titik pengamatan yang melaporkan kondisi hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari yang tersebar di 25 provinsi–dengan HTH terpanjang saat ini di wilayah Bantul yaitu 131 hari (>4 bulan).

“Bahkan El Niño 2026 menyebabkan terjadinya periode kemarau pada beberapa ZOM dengan tipe hujan sepanjang tahun,” jelasnya.

Dengan kondisi kering yang masih panjang, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi kepada kementerian/lembaga, pemerintah daerah, institusi terkait, serta seluruh masyarakat untuk melakukan langkah antisipatif demi mengoptimalkan sumber daya yang ada di tengah keterbatasan air.

Bagi sektor pangan, diperlukan jadwal tanam dan varietas tanaman yang memiliki siklus tanam lebih pendek serta upaya pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Air hujan yang jarang turun memerlukan perhatian khusus agar lebih berhemat dalam memanfaatkannya, menambah kapasitas tampung pada skala rumah tangga, serta mengatur inflow dan elevasi waduk, serta pelepasan air secara proporsional untuk operasional PLTA.

“Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan diimbau mengidentifikasi potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur bor, serta mengoptimalkan pengelolaan drainase dan konservasi air secara berkelanjutan,” tutur Faisal.

Rekomendasi bagi sektor lingkungan dan kesehatan harus menyiapkan mekanisme respons terhadap kondisi kualitas udara yang kurang sehat berkepanjangan akibat mundurnya awal musim hujan, mengoptimalkan sirkulasi udara ruangan untuk menurunkan kelembapan saat musim hujan, melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan larvasidasi, serta menyiapkan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan kasus demam berdarah dan penyakit akibat genangan pasca hujan/banjir.

BMKG mengingatkan seluruh pihak untuk tetap waspada terhadap kekeringan dan karhutla, terutama pada September-Oktober serta mengoptimalkan sistem drainase dan kesiapan evakuasi mengantisipasi bencana banjir dan longsor pada awal dan puncak musim hujan.

BMKG mengimbau seluruh pemangku kepentingan agar memanfaatkan informasi Prediksi Musim Hujan 2026/2027 ini sebagai acuan Peringatan Dini (Early Warning) untuk merancang dan mengeksekusi Aksi Dini (Early Action). Untuk mendukung perencanaan aksi yang lebih rinci dan sesuai dengan kondisi iklim wilayah masing-masing, BMKG menyarankan masyarakat beserta instansi terkait agar berkonsultasi langsung dengan Kantor BMKG terdekat.

(Yar/P1)

  • Penulis: Lampung77
expand_less