LAMPUNG77.com – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Lampung bersama Taman Kehati akan mengembangkan Sport Eco-Tourism di kawasan Kota Baru.
Ketua Umum KONI Lampung, Taufik Hidayat, menilai Taman Kehati yang berada di kawasan Kota Baru memiliki potensi untuk menjadi pusat olahraga berbasis lingkungan. Menurutnya, dengan kontur lahan daratan yang luas serta keberadaan embung, kawasan ini dinilai ideal untuk berbagai cabang olahraga luar ruang (outdoor) maupun olahraga air.
“Ada 17 cabang olahraga yang sudah siap berkolaborasi. Dalam waktu dekat, olahraga berkuda dan paramotor menjadi yang paling siap untuk memulai aktivitas di sini,” kata Taufik, dalam keterangannya disela-sela penanaman pohon bersama pengurus cabang olahraga (cabor) se-Provinsi Lampung di Taman Kehati, Kota Baru, Selasa (10/2/2026).
Taufik mengungkapkan pihaknya akan segera menindaklanjuti rencana pengembangan Sport Eco-Tourism tersebut dengan mendesain lapangan yang sesuai standar teknis masing-masing cabor.
“Kami akan menyesuaikan dengan lahan yang tersedia, mulai dari lapangan untuk berkuda memanah, berkuda ketangkasan, polo, hoki, hingga kriket,” kata dia.
Ia menambahkan meskipun saat ini koordinasi masih berfokus pada internal cabor, KONI Lampung membuka pintu kolaborasi bagi berbagai instansi terkait untuk mewujudkan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai.
Baca Juga:
Banyak Fasilitas Olahraga di PKOR Way Halim Kurang Layak, Ini Respons KONI Lampung
Pionir di Indonesia
Senada dengan KONI Lampung, pihak Yayasan Taman Kehati yang diwakili Herawati Soekardi Djausal menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, kehadiran insan olahraga akan mempercepat terwujudnya visi Taman Kehati sebagai kawasan konservasi yang bermanfaat secara ekonomi dan sosial.
“Konservasi itu mencakup pelestarian, pengelolaan berkelanjutan, dan pemanfaatan. Masuknya KONI maupun KORMI (Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia) ke sini menjadi sarana pemanfaatan untuk ekowisata dan eko-sport,” kata Herawati.
Ia meyakini bahwa aktivitas olahraga tidak akan mengganggu kelestarian tanaman di Taman Kehati. Sebaliknya, kehadiran para atlet dan komunitas olahraga akan membuat kawasan ini lebih optimal dan dikenal luas oleh masyarakat.
“Kalau hanya menunggu pohon besar untuk sumber bibit, mungkin butuh waktu lama. Tapi dengan adanya kegiatan olahraga, kawasan ini bisa langsung bermanfaat bagi masyarakat. Kita bisa punya pasar buah segar, pusat bibit, hingga floating market di sini,” ujarnya.
Menurut Herawati kolaborasi antara kawasan konservasi dengan dunia olahraga ini berpotensi menjadi pionir di Indonesia.
“Ini bisa jadi yang pertama di Indonesia, di mana kawasan konservasi bermitra langsung dengan KONI dan berbagai cabor untuk menciptakan ekosistem Sport Ecotourism yang berkelanjutan,” pungkasnya.
(Rls/Yar/P1)




