LAMPUNG77.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan angin kencang dengan kecepatan 55 km/jam melanda wilayah Lampung akhir-akhir ini. Lantas, apa penyebab yang memicu terjadinya angin kencang tersebut?
“BMKG mencatat ada tiga faktor utama yang saling berkombinasi memicu angin kencang saat ini,” kata Rudi Harianto, Koordinator Data dan Informasi BMKG Lampung, saat dihubungi Lampung77.com, Jumat (20/2/2026).
Rudi menuturkan tiga faktor tersebut yakni pertama menguatnya Angin Monsun Asia (Monsun Barat). Angin dingin yang bertiup dari daratan Asia (Siberia) menuju Australia ini sedang menguat. Pergerakannya melewati perairan Indonesia yang hangat, sehingga membawa massa udara basah dan uap air dalam jumlah masif.
Baca Juga:
Cuaca Lampung Terasa Dingin Akhir-akhir Ini, Apa Penyebabnya?
Kemudian faktor yang kedua, lanjut Rudi, yaitu Sirkulasi Siklonik dan Pertemuan Angin. Menurutnya, terdapat pola pertemuan angin (konvergensi) dan belokan angin di sekitar Sumatera bagian selatan. Kombinasi ini meningkatkan gradien tekanan udara yang secara otomatis membuat aliran kecepatan angin di wilayah Lampung dan sekitarnya menjadi jauh lebih kencang dari kondisi normal.
“ketiga, Fenomena Downdraft. Tingginya uap air memicu pertumbuhan awan hujan raksasa (Cumulonimbus). Saat hujan lebat turun dari awan ini membawa embusan angin kencang ke bawah (downdraft) yang langsung menghantam daratan,” jelas Rudi.
Kecepatan Angin Capai 55 Km/Jam
Rudi menyebutkan bahwa kecepatan angin tertinggi di Lampung yang sempat dilaporkan bisa mencapai 55 km/jam.
“Adapun daerah yang paling terasa dampaknya yakni di wilayah pesisir dan perairan, meliputi Perairan Barat Lampung, Teluk Lampung (bagian selatan maupun utara), Selat Sunda bagian selatan Lampung, serta di area daratan secara merata pada saat terjadi hujan lebat,” ungkap Rudi.
Cuaca Ekstrem Sampai Akhir Februari 2026
Rudi memprakirakan cuaca ekstrem yang melanda wilayah Lampugn seperti hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang berpotensi terjasi hingga akhir Februari 2026.
“Kami memprediksi bahwa potensi cuaca ekstrem, berupa hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir, masih berpeluang kuat terjadi setidaknya hingga akhir Februari 2026. Hal ini dikarenakan bulan Februari memang merupakan puncak dari musim penghujan dan periode paling aktifnya Monsun Asia,” kata Rudi.
Imbauan BMKG
Rudi menambahkan terkait kondisi cuaca esktrem tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan darat yakni berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan karena angin kencang berisiko memicu pohon tumbang, baliho roboh, serta kerusakan atap bangunan.
“Kemudian waspada cuaca maritim. Bagi nelayan dan pengguna transportasi laut (terutama penyeberangan Selat Sunda), diimbau sangat waspada karena angin kencang ini juga memicu peningkatan tinggi gelombang laut yang bisa mencapai 1,25 hingga 2,5 meter (bahkan lebih di titik tertentu),” pungkas Rudi.
Baca Juga:
Sampai Kapan Puncak Musim Hujan 2026 di Lampung? Ini Kata BMKG
(Yar/P1)



