8 Ton Garam Disemai, Operasi Modifikasi Cuaca Atasi Ancaman Karhutla di Lampung
- account_circle Iyar Jarkasih
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Operasi Modifikasi Cuaca di Lampung. (Foto: Dok. BMKG Lampung)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LAMPUNG77.com – Sebanyak 8 ton natrium klorida (NaCL) atau garam disemai dari udara untuk memicu turunnya hujan dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) di sejumlah wilayah Lampung.
OMC ini dilakukan guna mengatasi ancaman kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Lampung saat puncak musim kemarau.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Meteorologi Radin Inten II Lampung, Rudi Harianto menyebutkan Provinsi Lampung memasuk puncak musim kemarau dengan ancaman bencana hidrometeorologi kering yang cukup signifikan.
Baca Juga: Cuaca Lampung September 2026: Puncak Kemarau, Waspada Kekeringan dan Karhutla!
Menurutnya, tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah berdasarkan indikator Fine Fuel Moisture Code / FFMC berada pada kategori Very High (sangat mudah terbakar).
“Hal ini terbukti dari munculnya berbagai titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah Lampung Tengah, Tulang Bawang, Lampung Timur, hingga ancaman pada kawasan konservasi penting seperti Taman Nasional Way Kambas (TNWK),” kata Rudi, dalam keterangannya, Jumat (4/9/2026).
Sebagai langkah penanganan siaga darurat, lanjut Rudi, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD Provinsi Lampung, serta PT Gaia Ananda Samasta menggelar OMC pada 26 Agustus hingga 2 September 2026.
Optimalkan Awan Konvektif Menjadi Hujan
Rudi menuturkan OMC ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi awan konvektif menjadi hujan agar dapat membasahi lahan kering serta memadamkan hotspot.
“Strategi ini bertumpu pada pengamatan citra satelit Himawari-9, pemantauan radar cuaca, dan data Automatic Weather Station (AWS/ARG),” ujarnya.
Ia mengatakan dalam OMC ini digunakan Pesawat Cessna 208 Caravan dengan registrasi PK-YNA. Adapun bahan semai yang dipakai yakni Natrium Klorida (NaCl) berukuran mikro sebagai inti kondensasi higroskopis.
“Untuk teknis penyemaian, pesawat melakukan penetrasi pada level ketinggian 8.000–10.000 feet dan langsung menargetkan puncak awan Cumulus Congestus dengan base 6.000 ft,” jelasnya.
Hasil OMC
Menurutnya dalam operasi yang berlangsung selama 8 hari ini mencatatkan total 10 sorti penerbangan dengan total bahan semai NaCl terpakai sebanyak 8.000 kg (8 Ton).
Adapun cakupan Wilayah penyemaian menyasar 7 wilayah prioritas yaitu Lampung Barat, Lampung Timur, Way Kanan, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara, dan Tulang Bawang.
Ia menyebutkan hasil OMC yang dilakukan berdasarkan Observasi radar dan AWS mencatat terjadinya presipitasi hujan lokal berintensitas ringan hingga sedang di berbagai daerah sasaran pasca-penyemaian, sseperti di ARG Batu Lintang dan area TNWK. Selain itu, melalui OMC ini juga terjadi penurunan signifikan pada sebaran titik panas di wilayah yang disasar.
“Pada penghujung operasi tanggal 1–2 September 2026, status titik panas di Provinsi Lampung berhasil ditekan hingga minim,” ujarnya.
Rudi menambahkan OMC yang dilakukan terbukti efektif sebagai alat intervensi cepat dalam menanggulangi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta risiko kekeringan di Provinsi Lampung.
“Keberhasilan intervensi teknologi atmosfer ini tidak lepas dari presisi analisis data BMKG, kesiapan tim penerbangan, serta sinergi tanggap darurat antar-lembaga,” pungkasnya.
Baca Juga: Gubernur Lampung Turun Langsung Cek Kebakaran di Way Kambas, Pastikan Api Tak Meluas!
(Yar/P1)
- Penulis: Iyar Jarkasih
